[close]

Jamaah Anak Muda Se-Malaya

Utama

free counters

Ukhwah Jamaah

"BangkitLah Jemaah Anak Muda!"
U-jamV3.0. Powered by Blogger.

Thursday, October 13, 2011

Ilmu Bahtera Nabi Nuh A.S

Posted by Usrah Jamaah Anak Muda | Thursday, October 13, 2011 | Category: | 0 comments



Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera. Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun. Melalui wahyu-Nya, Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Berikut  fakta oleh Bahtera Nuh :
1. Bahtera Nuh Dipimpin Oleh Nahkoda Tertua Di Dunia (berusia 600 th) Ibnu Abbas menceritakan Bahwa nabi Nuh diutus pada kaumnya ketika berumur 480 tahun. Masa kenabiannya adalah 120 tahun dan berdakwah selama 5 abad. Dia mengarungi banjir ketika ia berumur 600 tahun dan kemudian setelah banjir ia hidup selama 350 tahun.
2. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Terbesar Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu. Ibnu Abbas menceritakan Bahwa Suatu ketika Nabi Isa menghidupkan Ham bin Nuh dan bertanya kepadanya kenapa rambutnya beruban, ia menjawab dia meninggal di saat usia muda karena ketakutannya ketika banjir. Ia berkata bahwa panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan.
3. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia. Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Bahtera Nuh dianggap merupakan alat angkutan laut pertama di dunia.
4. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu. Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun.
5. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Angkut Bertingkat Pertama Di Dunia (3 tingkat). Panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan. Tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan, tingkat kedua ditempatkan manusia, tingkat ketiga untuk burung-burung.
6. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Yang Belayar Tertinggi Dari Dasar Laut. Menurut Al Qur’an, bahtera Nuh telah mendarat di Bukit Judi. Ada pendapat yang menunjukkan suatu gunung di wilayah Kurdi atau tepatnya dibagian selatan Armenia, ada pendapat lain dari Wyatt Archeological Research, bukit tersebut terletak di wilayah Turkistan Iklim Butan, Timur laut pulau yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai Jazirah Ibnu Umar (Tafsir al-Mishbah).
7. Bahtera Nuh Adalah Kapal Anti Topan Dan Banjir Pertama Di Dunia. Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir.
8. Bahtera Nuh Adalah Kapal Pertama Yang Berlayar Tanpa Kompas. Setelah bahtera itu selesai, Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut.
9. Bahtera Nuh Dinahkodai Bukan Ahli Ilmu Kelautan Dan Perbintangan. Nuh adalah seorang nabi yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Quran. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern.
10. Bahtera Nuh Adalah Satu-Satunya Kapal Angkut Dengan Penumpang Paling Sedikit Pertama Di Dunia. Ibnu Thabari menceritakan setelah kapal berlabuh di pegunungan Ararat, ia kemudian membangun suatukota di daerah Ararat (Qarda) disuatu areal yang termasuk Mesopotamia dan menamakan kota tersebut Themanon (Kota delapan Puluh) karena kota tersebut dibangun oleh orang yang beriman yang berjumlah 80 orang.
11. Bahtera Nuh Adalah Kapal Angkut Yang Mengangkut Jenis Binatang Berpasangan Terbanyak Di Dunia. Nuh memiliki 4 anak laki-laki: Kan’an, Sem, Ham, dan Yafet. Menurut kitab Kejadian, pada jamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi; hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut.
12. Bahtera Nuh Satu-Satunya Kapal Yang Mendarat Di Gunung. Berdasarkan foto yang dihasilkan dari gunung Ararat, menunjukkan sebuah perahu yang sangat besar diperkirakan memilik luas 7.546 kaki dengan panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki dan masih ada tiga tingkat lagi diatasnya.
13. Bahtera Nuh Adalah Kapal Yang Mengarungi Banjir Terlama Di Dunia. Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar-benar kering sebelum membuka pintu bahtera
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A064
Mereka terus mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami karamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (matahatinya daripada melihat kebenaran) (Al-A'raaf 7:64) |  | English Translation 

A022
Dia lah yang menjalankan kamu di darat dan di laut (dengan diberi kemudahan menggunakan berbagai jenis kenderaan); sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan bahtera itu pula bergerak laju membawa penumpang-penumpangnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka pun bersukacita dengannya; tiba-tiba datanglah kepadanya angin ribut yang kencang, dan mereka pula didatangi ombak menimpa dari segala penjuru, serta mereka percaya bahawa mereka diliputi oleh bahaya; pada saat itu mereka semua berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan kepercayaan mereka kepadaNya semata-mata (sambil merayu dengan berkata): "Demi sesungguhnya! jika Engkau (Ya Allah) selamatkan kami dari bahaya ini, kami tetap menjadi orang-orang yang bersyukur". (Yunus 10:22) |  | English Translation 

A073
Mereka tetap juga mendustakan Nabi Nuh, lalu Kami selamatkan dia bersama-sama pengikut-pengikutnya yang beriman di dalam bahtera, dan kami jadikan mereka pengganti-pengganti (yang memakmurkan bumi) serta Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami (dengan banjir dan taufan sehingga punah-ranah semuanya). Maka lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang (yang mendustakan ayat-ayat kami) setelah diberi amaran. (Yunus 10:73) |  |English Translation 

A037
Dan buatlah bahtera dengan pengawasan serta kawalan Kami, dan dengan panduan wahyu Kami (tentang cara membuatnya); dan janganlah engkau merayu kepadaKu untuk menolong kaum yang zalim itu, kerana sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan (dengan taufan)". (Hud 11:37) |  | English Translation 

A038
Dan Nabi Nuh pun membuat bahtera itu, dan tiap-tiap kali sepuak dari kaumnya melalui tempat ia membina bahteranya, mereka mengejek-ejeknya. Nabi Nuh pun menjawab: "Jika kamu memandang kami bodoh (kerana membuat bahtera ini), maka sesungguhnya kami juga memandang kamu bodoh (kerana keingkaran kamu), sebagai (balasan) ejekan kamu. (Hud 11:38) |  | English Translation 

A040
(Nabi Nuh terus bekerja) sehingga apabila datang hukum Kami untuk membinasakan mereka dan air memancut-mancut dari muka bumi (yang menandakan kedatangan taufan), Kami berfirman kepada Nabi Nuh: "Bawalah dalam bahtera itu dua dari tiap-tiap sejenis haiwan (jantan dan betina), dan bawalah ahlimu kecuali orang yang telah ditetapkan hukuman azab atasnya (disebabkan kekufurannya), juga bawalah orang-orang beriman". Dan tidak ada orang-orang yang beriman yang turut bersama-samanya, melainkan sedikit sahaja. (Hud 11:40) |  | English Translation 

A041
Dan (ketika itu) berkatalah Nabi Nuh (kepada pengikut-pengikutnya yang beriman): "Naiklah kamu ke bahtera itu sambil berkata: ' Dengan nama Allah bergerak lajunya dan berhentinya '. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani." (Hud 11:41) |  | English Translation 

A042
(Mereka semua naik) dan bahtera itupun bergerak laju membawa mereka dalam ombak yang seperti gunung-ganang, dan (sebelum itu) Nabi Nuh memanggil anaknya, yang sedang berada di tempat yang terpisah daripadanya: "Wahai anakku, naiklah bersama-sama kami, dan janganlah engkau tinggal dengan orang-orang yang kafir". (Hud 11:42) |  | English Translation 

A044
Dan (setelah binasanya kaum kafir itu) diperintahkan kepada bumi dan langit dengan berkata: "Wahai bumi telanlah airmu, dan wahai langit berhentilah dari curahan hujanmu". Dan (ketika itu) surutlah air, serta terlaksanalah perintah (Allah) itu. Danbahtera Nabi Nuh itupun berhenti di atas gunung "Judi" serta diingatkan (kepada kaum kafir umumnya bahawa): "Kebinasaanlah akhirnya bagi orang-orang yang zalim". (Hud 11:44) |  | English Translation 

A048
Allah berfirman: Wahai Nuh! Turunlah (dari bahtera itu) dengan selamat dan berkat dari Kami kepadamu dan kepada umat-umat yang bersama-samamu. Dan (dalam pada itu) ada umat-umat dari keturunan mereka yang Kami akan beri kesenangan kepadanya (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan dikenakan azab dari Kami yang tidak terperi sakitnya". (Hud 11:48) |  | English Translation 




A003
(Wahai) keturunan orang-orang yang telah Kami bawa bersama-sama dengan Nabi Nuh (di dalam bahtera)! Sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang bersyukur. (Al-Israa' 17:3) |  | English Translation 

A058
Mereka itulah sebahagian dari Nabi-nabi yang telah dikurniakan Allah nikmat yang melimpah-limpah kepada mereka dari keturunan Nabi Adam, dan dari keturunan orang-orang yang Kami bawa (dalam bahtera) bersama-sama Nabi Nuh, dan dari keturunan Nabi Ibrahim, dan (dari keturunan) Israil- dan mereka itu adalah dari orang-orang yang Kami beri hidayah petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Ar-Rahman, mereka segera sujud serta menangis. (Maryam 19:58) |  | English Translation 

A027
Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera dengan pengawasan serta kawalan Kami, dan dengan panduan wahyu Kami (tentang cara membuatnya); kemudian apabila datang hukum Kami untuk membinasakan mereka, dan air memancut-mancut dari muka bumi (yang menandakan kedatangan taufan), maka masukkanlah ke dalam bahtera itu dua dari tiap-tiap jenis haiwan (jantan dan betina), dan bawalah ahlimu (dan pengikut-pengikutmu) kecuali orang yang telah ditetapkan hukuman azab atasnya di antara mereka (disebabkan kekufurannya); dan janganlah engkau merayu kepadaku untuk menolong kaum yang zalim itu, kerana sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan dengan taufan sehingga mati lemas. (Al-Mu'minuun 23:27) |  | English Translation 

A028
"Kemudian apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu maka hendaklah engkau (bersyukur kepada Allah dengan) berkata: ` Segala puji tertentu bagi Allah yang telah menyelamatkan kami daripada orang-orang yang zalim '. (Al-Mu'minuun 23:28) |  | English Translation 

A119
Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersama-sama dengannya dalam bahtera yang penuh sarat (dengan berbagai makhluk). (Asy-Syu'araa' 26:119) |  | English Translation 

A120
Kemudian daripada itu, Kami tenggelamkan golongan (kafir) yang tinggal (tidak turut bersama dalam bahtera). (Asy-Syu'araa' 26:120) |  | English Translation 

A015
Maka dengan itu Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya yang turut bersama dalam bahtera, dan Kami jadikan bahteraitu satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Kami dan memberi pengajaran insaf) kepada sekalian makhluk. (Al-'Ankabuut 29:15) |  | English Translation 

A065
Dalam pada itu, apabila mereka naik bahtera (lalu menemui sesuatu bahaya di laut), mereka memohon pertolongan kepada Allah dengan doa yang tulus ikhlas kepadaNya. Kemudian setelah Allah menyelamatkan mereka (naik) ke darat, mereka berlaku syirik kepadaNya. (Al-'Ankabuut 29:65) |  | English Translation 

A041
Dan satu dalil lagi untuk mereka (insaf) ialah, Kami membawa belayar jenis keluarga mereka dalam bahtera yang penuh sarat; (Yaa Siin 36:41) |  | English Translation 

A013
Dan Kami bawa naik Nabi Nuh (berserta pengikut-pengikutnya) di atas (bahtera yang dibina) dari keping-keping papan dan paku; (Al-Qamar 54:13) |  | English Translation 



A015
Dan demi sesungguhnya! Kami telah jadikan bahtera itu sebagai satu tanda yang menjadi pengajaran, maka adakah orang yang mahu beringat dan insaf? (Al-Qamar 54:15) |  | English Translation 

A011
Sesungguhnya Kami, - ketika air (banjir) melampaui hadnya (serta menenggelamkan gunung-ganang), - telah mengangkut (serta menyelamatkan nenek moyang) kamu ke dalam bahtera Nabi Nuh (yang bergerak laju pelayarannya). (Al-Haaqqah 

Monday, October 10, 2011

Mencari Energy & Sinergy yang Hilang dalam Perjuangan

Posted by Usrah Jamaah Anak Muda | Monday, October 10, 2011 | Category: | 0 comments



Nama sebenar Ka’ab ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, beliau dikenali dengan gelaran Abu Basyir. Merupakan salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kebolehan dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan.

Kemampuan sebagai penyair ini, menyebabkan beliau mendapat tempat khas di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, iaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah.

Ka’ab bin Malik juga merupakan pemuka sahabat dari kalangan Ansor yang berasal dari suku Khazraj

Kisah Ka’ab ini merupakan sebahagian daripada episod dalam kisah Perang Tabuk yang berlaku pada tahun ke-9 Hijrah. Ka’ab merupakan salah seorang daripada 3 orang mukmin yang tidak turut serta dalam kempen itu walaupun berkemampuan.

Mereka mengakui kesilapan itu dengan tidak mengemukakan apa-apa alasan apabila disoal oleh baginda Nabi Muhammad SAW sekembalinya tentera dari kempen itu dan hanya mengaku bersalah dengan jujur.

Ini bertentangan dengan golongan Munafiqin yang tidak turut serta tetapi mengemukakan pelbagai alasan untuk melepaskan diri. Rasululllah SAW tetap menerima alasan mereka walaupun tahu tentang kemunafiqan mereka. Taubat Kaab diceritakan dalam Surah Taubah

Dan (Allah menerima pula taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat mereka) hingga apabila bumi yang luas ini (terasa) sempit kepada mereka (kerana mereka dipulaukan), dan hati mereka pula menjadi sempit (kerana menanggung dukacita), serta mereka yakin bahawa tidak ada tempat untuk mereka lari dari (kemurkaan) Allah melainkan (kembali bertaubat) kepadaNya; kemudian Allah (memberi taufik serta) menerima taubat mereka supaya mereka kekal bertaubat. Sesungguhnya Allah Dialah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani. ( at- Taubah :18 )

Terdapat juga sekumpulan yang betul-betul uzur dan terlepas daripada menyertai kempen ini. Golongan ini dihuraikan dalam Surah Taubah:

Orang-orang yang lemah dan orang-orang yang sakit, dan juga orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu yang akan dibelanjakan, tidaklah menanggung dosa (kerana tidak turut berperang) apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikitpun bagi menyalahkan orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya; dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani ( at-Taubah : 91 )

Ka’ab serta 2 orang lagi mukmin iaitu Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi telah dihukum boikot oleh Allah SWT sehingga Allah SWT menerima taubat mereka pada waktu subuh selepas berlalunya malam yang ke-50.

Dalam tempoh boikot yang tidak diketahui hujungnya itu, Ka’ab menanggung beban dugaan yang sungguh besar. Antaranya:

1. Orang-orang mukmin dilarang mutlak daripada berurusan dengan mereka, hatta menjawab salamnya sekalipun.
2. Isteri-isteri mereka diasingkan daripada mereka bermula dari malam yg ke-40.
3. Raja Ghassan cuba untuk menghasut Ka’ab menyertai mereka serta dijanjikan dengan habuan jika meninggalkan barisan saf muslim.
4. Cubaan untuk kekal thabat dalam iman walaupun dihukum untuk tempoh yang tidak pasti (boleh jadi diboikot sehingga akhir hayat mereka)

Boikot ini diangkat oleh Allah dengan turunnya ayat 118 surah Taubah dan keindahan ukhuwwah di kalangan mukminin jelas terpancar apabila seluruh Madinah bergembira pada subuh ayat itu diturunkan. Mereka berkejaran mendapatkan Ka’ab untuk memaklumkan penerimaan taubatnya dan ukhuwwah mereka bersambung kembali.

Berikut merupakan unsur - unsur penting yang perlu diteladani oleh ahli gerakan Islam dari sudut Fiqh Dakwah berdasarkan kisah Ka’ab tersebut.

1. Kenapa Ka’ab dihukum?

Ekspedisi Perang Tabuk berakhir tanpa ada satu pun pertempuran tetapi Ka’ab tetap juga dihukum. Ada yang berpandangan kehadiran Ka’ab tidak memberi beza pun kerana tiada pertempuran berlaku, jadi tidak perlulah dihukum sebegitu.

Dalam hal ini, bukan perjalanan sesuatu peristiwa itu yang perlu dijadikan ukuran, tetapi isu tanggungjawab dan peranan yg digalaskan itu lebih bererti, sama ada ianya dilaksanakan atau tidak. Peranan mesti dilaksanakan dalam apa situasi sekalipun dan tanggungjawab tetap kekal sehingga sesuatu misi itu tamat.

2. Bai’ah berjihad dengan Allah

Kesilapan Ka’ab ialah melanggar Bai’ah berjihad dengan Allah. Beliau dikira meninggalkan jihad tanpa ada alasan semasa kempen Perang Tabuk. Satu kesalahan yg sangat-sangat besar. Ayat baiah berjihad terkandung di dalam surah At-Taubah.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh Syurga, (disebabkan) mereka berjuang pada jalan Allah; maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta Al-Quran; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jualbelinya itu, dan (ketahuilah bahawa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar ( at-Taubah :111 )

3. Pengorbanan pada masa paling rumit

Keadaan Madinah pada ketika baginda Nabi Muhammad SAW melancarkan persiapan ke Tabuk sangat meruncing. Kemarau sedang melanda, bekalan makanan berkurangan, lokasi Tabuk yang sungguh jauh, keluarga yang perlu ditinggalkan dan bermacam-macam lagi.

Semua ini benar-benar menguji pertimbangan mukminin untuk mempersiapkan diri pergi berperang. Perasaan berbelah bagi mungkin timbul. Pengorbanan yang besar sungguh diperlukan pada ketika ini. Mampukah kita berkorban walaupun dalam keadaan yg tersepit?

4. Ka’ab buta di hujung hayatnya

Di hujung usia Ka’ab,beliau menerima ujian dengan menghidapi penyakit buta. Pengajarannya, para du’at tidak terlepas daripada kelemahan dan penyakit walau sehebat manapun rekod amalnya. Jangan sesekali berasa kehebatan kita di bidang dakwah menjadi sebab Allah jauhkan penyakit dan kelemahan daripada kita.

5. Senioriti dan kesolehan bukan jaminan tidak membuat kesilapan

Jangan berasa selesa dan yakin bahawa senioriti dan kesolehan kita tidak akan membuatkan kita tersilap. Ka’ab merupakan seorang sahabat yang agung (ahli Badar) dan senior tetapi turut tersilap dalam perkiraannya. Hendaklah sentiasa bermusahabah dengan tindakan dan keputusan kita, dan juga bermutabaah. Jangan lemas dalam status senior.

6. Antara Bai’ah Aqabah dan Badar

Ka’ab pernah memberitahu beliau lebih suka kepada Bai’ah Aqabah berbanding Perang Badar (kedua-duanya disertai Ka’ab) walaupun Badar lebih masyhur dan mulia.

Ini kerana Bai’ah Aqabah adalah peristiwa perjanjian (memberi bai’ah) untuk mewakafkan seluruh hidup kepada islam sebagai seorang da'ei dan jauh lebih besar ertinya, manakala peperangan merupakan sebahagian daripada perjanjian itu.

7. Kepentingan persediaan secukupnya

Peristiwa Tabuk membuktikan persediaan yang cukup amat penting terutamanya bagi sesuatu kerja yang besar. Ini dapat dilihat apabila Rasul buat pertama kali mengumumkan destinasi peperangan, walhal dalam kempen-kempen sebelum ini Rasul sentiasa rahsiakan sehingga saat akhir. Dan rasul juga memberi tempoh yang agak lama untuk setiap mukmin bersiap siaga. Ini kerana Tabuk sangat jauh dan musuh kali ini ialah tentera empayar Rom.

8. Bertangguh itu bahaya

Jangan amalkan sikap ‘I can if want to do it now’, kerana itulah kesilapan Ka’ab. Ka’ab seorang yang berkemampuan tetapi sentiasa bertangguh untuk bersiap hingga semuanya sudah terlambat.

Usahakan untuk terus lakukan perkara yang mampu dilakukan terutamanya dalam bidang dakwah seperti berjumpa mad’u, menyiapkan bahan, merencana program.

9. Perselisihan pendapat itu dibolehkan

Perselisihan pendapat diterima dalam menilai kesilapan seseorang. Dalam kes Ka’ab, kaumnya dari Bani Salamiah mengkritik keras kecuaian Ka’ab tetapi Muadz Jabal mengambil pendekatan bersangka baik dan cuba mencari keuzuran Ka’ab. Rasul tidak menegur kedua-dua sikap ini - tandanya Rasul iktiraf keduanya. Ada fiqh sendiri dalam kedua-dua sikap yang diambil dan perbezaan pendapat dibolehkan.

10. Berwaspada dengan kecenderungan memberi alasan

Allah telah membuka pekung para munafiqin yg memberi alasan tidak menyertai Tabuk (melalui ayat Quran) walaupun mereka sangka telah terlepas apabila Rasul terima alasan-alasan itu.

Para du’at hendaklah mempunyai azam kuat dan kukuh bertahan walaupun membuat silap. Kesilapan berlaku sesekali dan jalan keluar ialah dengan bertaubat, bukan dengan memberi alasan. Ka’ab memilih jalan taubat walaupun beliau berkata ‘Akulah orang yg paling pandai dalam memberi alasan jika aku mahu ketika peristiwa itu’.

11. Kepentingan berkata benar

Ditekankan juga tentang kepentingan berkata benar - kepada diri sendiri dan kepada pemimpin. Jawab Rasul setelah Ka’ab mengakui kesilapannya tanpa cuba memberi alasan: ‘Inilah dia org yang jujur’.

Secara tidak langsung Rasul menempelak para munafiqin yang cuba membodohkan Rasul dengan alasan mereka. Implikasi apabila tidak berkata benar itu sentiasa ada.

12. Pendirian kepimpinan terhadap kesalahan besar

Pengajaran melalui hukuman walaupun yang melakukan kesalahan itu berkata benar. Ka’ab tetap menerima hukumannya walaupun berkata benar dan beliau tidak memberontak kerana itu.

13. Berhati-hati memberi nasihat

Berhati-hati dengan pengaruh emosi dan sentimen ketika memberi nasihat. Dalam kisah ini, kaum Ka’ab iaitu Bani Salamiah menasihati Ka’ab agar turut memberi alasan untuk melepaskan diri sekalipun mereka berniat ikhlas dan merupakan sebahagian daripada pasukan jihad islam yang pulang dari Tabuk.

Mereka menasihati Ka’ab supaya memberikan alasan dan membaiki kesilapan itu pada masa hadapan. Nyata nasihat mereka dipengaruhi sentimen ‘menjaga kaum kerabat’ walaupun niat mereka baik. Tidak semua nasihat baik terutamanya yang bersifat emosional. Dan kalau cuba memberi nasihat, berilah dengan pertimbangan rasional dan adil.

14. Pertimbangan emosi dalam menerima hukuman

Hendaklah cuba sedayanya untuk menerima hukuman dan ujian Allah dengan redha dan jauhi pengaruh emosi yang berlebihan kerana selalunya pertimbangan kita cenderung untuk salah ketika dikuasai perasaan. Dan jangan terlalu tenggelam melayan perasaan sedih dalam tempoh itu.

Ka’ab contoh keteguhan peribadi ketika menjalani hukuman walaupun cubaannya begitu berat seperti tidak dijawab salamnya oleh para mukminin termasuk sahabat paling rapat dengannya. Pemulauan mutlak oleh Nabi saw dan para sahabat.

15. Konspirasi musuh Islam sentiasa berjalan

Ka’ab menerima surat jemputan khas dari Raja Ghassan (kerajaan kafir yang kuat di semenanjung arab) untuk menyertai mereka dan dijanjikan pelbagai habuan. Pihak musuh Islam cuba memecahkan saf muslimin dengan menghasut mereka yang dalam keadaan tersepit seperti Ka’ab supaya membelot.

Mereka yang lemah iman atau gopoh sudah tentu mudah terpengaruh, contohnya seperti sesetengah golongan di Palestin kini yang terpedaya dengan habuan segera untuk bekerjasama dengan penjajah. Ka’ab sebaliknya memandang pelawaan itu sebagai ujian yang istimewa dari Allah khas untuknya.

16. Iltizam sepenuhnya walaupun dalam menjalani hukuman

Walaupun dalam tempoh hukuman, Ka’b tidak mengeluh atau cuba untuk berunding meringankan hukumannya. Sebaliknya, beliau cuba untuk memastikan beliau mematuhi perintah hukuman dengan sepenuhnya.

Contohnya, apabila diberitahu beliau perlu diasingkan daripada isterinya bermula malam ke-40, Ka’ab bertanya sama ada arahan itu memerlukannya menceraikan isteri atau hanya diasingkan (akan diceraikan jika perlu). Isterinya menawarkan diri untuk datang sesekali menguruskan makan pakainya dalam tempoh pengasingan itu tetapi disuruh oleh Ka’ab supaya jauhkan diri sehingga perintah mengatakan sebaliknya.

17. Kesabaran seorang da'ie sehingga Allah menyelamatkannya

Kesabaran itu pasak kepada peribadi seorang muslim. Berkat kesabaran Ka’ab, Allah menerima taubatnya setelah tamat malam ke-50 dan itulah peristiwa paling manis dalam hidupnya menurut Ka’ab.

18. Ukhuwwah yang agung

Ukhuwwahlah yg menjamin perpaduan sesama mukmin dan menghindarkan keretakan saf barisan orang-orang yang beriman. Para sahabat yang lain berkongsi kegusaran dalam menunggu tamatnya hukuman ke atas Ka’ab dan nyata apabila diangkat hukuman itu seluruh sahabat bergembira dan berebut-rebut menemui Ka’ab untuk memberitahunya.

Ka’ab tidak lupa kepada sahabatnya Talhah yg berkejaran menemuinya lalu memeluknya dan mengumumkan berita itu dengan gembira. Rasul turut gembira dengan penerimaan taubat Ka’ab, ‘Bergembiralah dgn hari yang paling baik pernah kau lalui’.

19. Pengorbanan dan peningkatan diri bukti taubat diterima

Ka’ab melepaskan hartanya setelah taubatnya diterima, sebagai berkorban untuk kesilapannya. Rasul memintanya simpan sebahagian untuk keluargnya. Keteguhan Ka’ab ketika diboikot juga membuktikan peningkatan dirinya dan ini adalah hasil taubat yang diterima.

20. Tiada perkataan ‘cukup’ dalam dakwah

Jangan berasa selesa atau cukup setelah terlaksana sesuatu misi dan objektif. Ka’ab tidak berasa cukup dengan taubatnya walau diterima lalu sentiasa sedekahkan hartanya dengan niat menebus kesilapannya

Wednesday, October 5, 2011

PENYAKIT DI KALANGAN AKTIVIS GERAKAN ISLAM

Posted by Usrah Jamaah Anak Muda | Wednesday, October 5, 2011 | Category: | 0 comments



Sahabat-sahabiah U-jam yang dikasihi...
Penyakit yang biasa melanda para aktivis adalah ghurur (terpedaya oleh diri sendiri). Penyakit ini berlaku kerana para aktivis merasakan dirinya telah lama dalam kerja-kerja dakwah, usaha-usahanya sentiasa berjaya, jamaah yang disertainya terkenal dan barisan kepimpinannya masyhur serta disanjung oleh masyarakat dengan label professor, doktor dan sebagainya. Keadaan seperti inilah yang cepat menjadikan mereka berpuas hati dengan sedikit amal dakwah yang mereka lakukan. Mereka cepat berpuas hati dengan sedikit pengorbanan yang mereka lakukan kerana mereka dapat berlindung di belakang sebuah jamaah yang terkenal.
Penyakit lain yang biasa juga melanda para aktivis adalah penyakit cintakan kemasyhuran dan suka menonjolkan kehebatan–kehebatan. Penyakit ini biasa menyerang para aktivis yang terlibat dalam dakwah secara terbuka, seperti memberi ceramah atau menjadi tempat rujukan masyarakat dalam beberapa perkara. Tanda awal kepada penyakit ini ialah apabila seorang aktivis itu merasa manis dengan kejayaannya dalam menyampaikan ceramah-ceramah di khalayak ramai. Kemudian dia suka bertanya-tanya pendapat beberapa orang temannya yang mendengar ceramahnya tadi berkenaan ceramah yang telah disampaikannya.
Selangkah selepas itu dia merasa kurang bermanfaat atau merugikan masanya jika dia diminta untuk menyampaikan ceramah kepada khalayak yang kecil bilangannya. Selepas tahap tersebut dia mula kagum dengan dirinya sendiri dan merasakan kejayaan jamaah adalah disebabkan oleh kemasyhurannya. Akhirnya ia merasakan bahawa ia boleh bergerak dan berperanan dalam dakwah tanpa berintima’ atau menyertai jamaah Islam. Lantas ia meninggalkan jamaah dan bergerak dengan meninggalkan dasar-dasar amal jama’ie.
Masalah Disiplin Para Aktivis
Di antara perkara yang selalu berlaku ialah tidak patuhnya aktivis-aktivis terhadap keputusan jamaaah. Ini berlaku apabila seseorang aktivis itu melakukan tindakan-tindakan yang menyanggahi peraturan-peraturan jamaah, Perkara ini termasuk juga tindakan seseorang aktivis menyatakan kepada masyarakat umum sesuatu perkara seolah-olah apa yang disampaikannya itu adalah pendirian jamaah. Sedangkan ia berbuat demikian tanpa kebenaran daripada pimpinan jamaah. Dalam hal ini ia bertindak seolah-olah sebagai wakil jamaah kepada masyarakat umum. Sedangkan apa yang dikatakan mungkin bercanggah atau tidak selaras dengan pendirian tanzim yang sebenar.
Masalah Kutlah/ Kelompok Yang Membawa Fitnah Dalam Tanzim
Untuk mencapai kesepakatan atau kebersamaan dalam semua hal adalah satu perkara yang rumit dalam harakah Islamiyyah. Para aktivis hendaklah ditarbiyyah hingga dapat menghayati adab-adab musyawarah dan adab-adab khilaf (berbeza pendapat) dalam sesuatu perkara. Namun demikian, masalah kutlah tetap wujud dan berlaku dalam jamaah Islam.
Masalah yang paling berat berkaitan dengan perbezaan pendapat adalah apabila beberapa aktivis yang tidak berpuas hati dengan sesuatu keputusan jamaah mula mendapatkan pengaruh daripada aktivis-aktivis lain. Bermula daripada itu, mereka mula mewujudkan kelompok atau kutlah yang sentiasa mendesak tanzim untuk menerima pendapat mereka. Tindakan mereka itu akhirnya menjadi fitnah dalam jamaah Islam.
Selalunya jika pendapat-pendapat mereka tidak juga diterima oleh jamaah, mereka memutuskan untuk meninggalkan jamaah dengan membawa bersama mereka ahli-ahli lain. Kemudian mulalah mereka menyerang jamaah yang asal dengan kata-kata dan tuduhan-tuduhan yang keji lagi dusta. Saidina Umar Al Khattab R.A pernah berkata, “Kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada berterusan dalam kebatilan (kesalahan)”.
Manakala Imam Fudhail berkata, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda munafik ialah, sukakan pujian terhadap perkara yang tidak dimiliki, bencikan celaan terhadap keburukan diri dan marahkan mereka yang menunjukkan kelemahan dirinya”.
“Sesungguhnya, antara tanda-tanda munafik ialah, dia merasa gembira apabila mendengar keburukan salah seorang sahabatnya”.
Sebenarnya bukanlah satu keaiban/ kehinaan jikalau para aktivis tersalah atau tersilap jalan kerana setiap manusia tidak terlepas dari kesalahan, dan sebaik-baik orang melakukan kesalahan ialah orang yang bertaubat serta kembali kepada kebenaran. Tetapi yang menjadi satu kesilapan dan dosa besar adalah sifat takabbur (sombong) serta berterusan melakukan kesalahan.
Bertaubatlah kepada Allah, kembalilah kepada kebenaran dan jamaah sebelum diri diperdaya oleh fitnah istidraj disebabkan oleh dosa yang dilakukan yang kemudian Allah menambahkan lagi nikmatnya sehingga melupakan mereka daripada istighfar (taubat). sumber : WRITTEN BY AKADEMI TARBIYAH DEWAN PEMUDA PAS PUS