Proses tarbiah Islamiah adalah satu proses pendidikan dan pembentukan yang bukan semata-mata satu proses pembelajaran ilmu
1
2
3Monday, April 22, 2013
Perjuangan Islam Tidak Semestinya Indah-Indah Belaka
Wednesday, March 13, 2013
Kisah Raja Zalim Bersama Ahli Sihir & Pendeta Kalah Teruk Ditangan Budak!
Assalamualaikum W.B.T
Di dalam al-Quran, kita sering membaca terjemahannya tetapi kita tidak tahu tafsir bagi setiap surah hingga kita tidak sedar, betapa banyak penceritaan di sebalik setiap kalamullah itu. Ini kerana, ramai yang beranggapan bahawa membaca buku tanpa berguru itu ibarat menuntut ilmu dengan syaitan. Tetapi mereka terlupa, sebaik-baik buku bacaan adalah al-Quran. Membaca terjemahannya sahaja tidak akan sempurna sehingga kita membelek beberapa kitab tafsir. Terdapat banyak kitab tafsir al-Quran yang telah berada di pasaran yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Tabari, Tafsir Baghawi, Tafsir Al-Azhar, Tafsir al-Jalalin, Tafsir Ibnu Abbas, Tafsir Ibnu Mas'od dan lain-lain lagi. Setiap kitab tafsir mempunyai keunikan tersendiri. Pada kebiasaanya, ia di susun mengikut sesebuah ayat, diikuti hadis nabi (sama ada hadis sahih atau hadis dhaif), atsar para sahabat dan tabi'in dan kemudian diakhiri dengan ulasan pengarang kitab sama ada melalui jalan cerita dari hadis maudhu, kisah Israiliyat mahupun kitab catatan sejarah.
Uniknya di dalam Tafsir Surah Al-Buruj terdapat peristiwa Kisah Ashabul Ukhdud. Apakah kisahnya itu?
Telah menceritakan kepada kami 'Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengkhabarkan kepada kami Tsabit dari 'Abdur Rahman bin Abu Laila dari Shuhaib bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Dulu sebelum kalian ada seorang raja, ia memiliki tukang sihir, saat tukang sihir sudah tua, ia berkata kepada rajanya: Aku sudah tua dan ajalku sudah tiba, serahkan seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir. Lalu seorang pemuda diserahkan padanya, ia mengajarkan sihir kepada pemuda itu. (Jarak) antara tukang sihir dan si raja terdapat seorang rahib.
Si pemuda itu mendatangi rahib dan mendengar kata-katanya, ia kagum akan kata-kata si rahib itu sehingga (dia kerisauan kerana kelewatan itu) bila datang ke si penyihir pasti dipukul, ia (guru tukang sihirnya akan) bertanya: Apa yang menghalangmu (sehingga terlewat)? Dan bila ia pulang (ke rumah) keluarganya, mereka pasti memukulnya, mereka bertanya: Apa yang menghalangmu (sehingga terlewat pulang ke rumah)?
Pemuda itu mengeluhkan hal itu kepada si rahib, ia berkata: Bila tukang sihir hendak memukulmu, katakan: Keluargaku menahanku, dan bila keluargamu hendak memukulmu, katakan: Si tukang sihir menahanku.
Saat seperti itu, pada suatu hari ia terserempak dengan haiwan yang besar yang menghalangi jalanan orang, ia mengambil batu lalu berkata: Ya Allah, bila urusan si rahib lebih Engkau sukai dan membuatmu senang dari pada tukang sihir itu maka bunuhlah binatang ini (dengan sekali rejam) hingga orang boleh lalu di sini. Ia melemparkan batu itu dan membunuhnya, orang-orang pun dapat lalu jalan itu.
Ia memberitahukan hal itu kepada si rahib. Si rahib berkata: Pemudaku, engkau lebih baik dariku dan engkau akan mendapat ujian, bila kau mendapat ujian jangan menunjukkan kepadaku (akan latar belakang diriku).
Si pemuda itu mampu menyembuhkan orang buta dan berbagai penyakit. Salah seorang sahabat raja yang buta lalu ia mendengarnya, ia mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, ia berkata: Sembuhkan aku dan kau akan mendapatkan yang aku kumpulkan di sini. Pemuda itu berkata: Aku tidak menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah 'azza wajalla, bila kau beriman padanya, aku akan berdoa kepadaNya agar menyembuhkanmu. Teman si raja itu pun beriman lalu pemuda itu berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala lalu ia pun sembuh.
Sahabat kepada raja itu kemudian mendatangi raja lalu duduk mendekatinya.
Si raja berkata: Hai fulan, siapa yang menyembuhkan matamu?
Orang itu menjawab: Rabbku.
Si raja berkata: Aku?
Orang itu berkata: Bukan, tapi Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.
Si raja berkata: Apa kau punya tuhan selainku?
Ia menjawab: Ya.
Si raja terus menyeksanya hingga ia menunjukkan pada pemuda itu lalu ia mengirim utusan menemuinya, ia berkata: Pemudaku, sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan penyakit-penyakit ini telah terdengar di mana-mana.
Pemuda itu berkata: Bukan aku yang menyembuhkan, tidak ada yang bisa menyembuhkan selain Allah 'azza wajalla.
Raja berkata: Aku?
Pemuda itu berkata: Bukan.
Raja berkata: Apa kau punya tuhan selainku?
Pemuda itu menjawab: Ya, Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.
Si raja menyeksa pemuda itu hingga ia menunjukkan pula kepada si rahib.
Si raja mendatangi si rahib dan berkata: Tinggalkan agamamu.
Si rahib tidak mahu lalu si raja meletakkan gergaji tepat di tengah kepalanya hingga sebelahnya terkapar di tanah.
Si raja berkata kepada pemuda itu: Tinggalkan agamamu.
Pemuda itu tidak mau. Lalu si raja mengirimnya ke gunung berserta sekian tenteranya, raja berkata: Bila kamu semua sudah mencapai puncaknya, bila ia mahu meninggalkan agamanya (biarkanlah dia) dan bila tidak mahu, lemparkan dari atas gunung.
Saat mereka berada di atas gunung, pemuda itu berdoa: (اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ) Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu.
Ternyata gunung menggegarkan mereka dan mereka semua terlempar. Pemuda itu kembali pulang hingga tiba di hadapan raja.
Raja berkata: Bagaimana keadaan kawan-kawanmu?
Pemuda itu menjawab: Allah 'azza wajalla mencukupiku dari mereka.
Si raja lalu mengirimnya ke sebuah perahu bersama sekian tenteranya, raja berkata: Bawalah ke tengah laut, bila ia mahu meninggalkan agamanya (bawalah dia pulang) dan bila ia tidak mahu meninggalkannya, tenggelamkan dia.
Mereka membawanya ke tengah laut lalu pemuda itu berdoa: (اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ) Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu. Akhirnya mereka semua tenggelam.
Pemuda itu pulang hingga tiba di hadapan raja, raja bertanya: Bagaimana keadaan teman-temanmu.
Pemuda itu menjawab: Allah 'azza wajalla mencukupiku dari mereka.
Setelah itu ia berkata kepada raja: Kau tidak akan mampu membunuhku hingga kau melakukan yang aku perintahkan, bila kau mahu melakukan yang aku perintahkan, kau akan dapat membunuhku.
Raja bertanya: Apa itu?
Pemuda itu berkata: Kumpulkan semua orang di tanah luas lalu saliblah aku di atas pelepah, ambillah satu anak panah dari sarung panahku lalu ucapkan: (بِسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلَامِ) Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini. Bila kau melakukannya (sebagaimana perintahku ini) kau akan dapat membunuhku.
Akhirnya raja itu melakukannya. Ia meletakkan anak panah di tengah-tengah panah lalu melesaknya seraya berkata: (اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ) Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.
Anak panah dilesakkan ke pelipis pemuda itu lalu pemuda meletakkan tangannya di tempat panah menancap kemudian mati.
(Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka) Orang-orang (yang berada di tanah lapang) berkata: Kami beriman dengan Rabb pemuda itu.
Dikatakan kepada raja: Tahukah kamu akan sesuatu yang kau khuatir, demi Allah kini telah menimpamu. Orang-orang itu beriman seluruhnya.
Si raja kemudian memerintahkan (bala tenteranya) membuat lubang di jalanan kemudian dinyalakan api. Raja berkata: Siapa pun yang meninggalkan agamanya, biarkan dan bila tidak mahu jerumuskan di dalamnya. Mereka dengan cepat mendatanginya dan saling mendorong hingga datanglah seorang wanita bersama anaknya yang masih menyusu, sepertinya ia hendak mundur agar tidak terjatuh dalam kubangan api lalu si bayi itu berkata: Ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran." (Hadis Riwayat Ahmad di dalam bab Musnad Al-Ansar No: 23413)
Imam Ibnu Katsir meletakkan hadis riwayat Ahmad ini sebagai tafsir bagi ayat 1-10 Surah Al-Buruj.
Manakala di dalam tafsir Baghawi, Imam Baghawi mentafsirkan dengan petikan hadis sahih Bukhari dan menambahkan lagi beberapa catatan, antaranya;
Untuk membuatkan mereka kembali kepada pegangan asal iaitu menganggap raja mereka sebagai tuhan, masih gagal membuatkan masyarakat yang berada di sekitar itu berpaling dari agama Nabi Isa. Seorang wanita bersama anak lelakinya yang masih kecil masih teragak-agak untuk terjun ke dalam parit yang berapi bagi membuktikan keimanannya kepada agama Nabi Isa itu, tiba-tiba berkata anak itu (anak itu adalah antara bayi yang ajaib dalam agama Allah yang dapat berbual semasa kecil), “Wahai Ibuku, aku lihat di depan kita terdapat api yang menyala, aku mendengar suara yang berada di dalam parit, Allah akan masukkan mereka dan anak mereka ke dalam syurga”.
Ada 77 orang yang mencampakkan orang masuk ke dalam parit yang berapi itu.
Sumber rujukan Imam Baghawi antaranya sirah Ibnu Hisyam, Kitab Tafsir Al-Quran Imam Thabari, Kitab Darul Mantsur oleh Imam Suyuti, Kitab Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir dan lain-lain.
Hadis yang sama juga dikeluarkan oleh Imam Muslim No 5332 dengan matan yang lebih teratur dan tersusun, selain itu diriwayatkan juga oleh Imam Baihaqi di dalam Kitab Sunan Al-Kubro bab Ke-16 Orang Yang Beriman No 1514, Sunan Kubro An-Nasa’i Bab Kitab Tafsir Surah Al-Buruj No 11154, As-Tsabat 'inda Al-Mamat Imam Ibnu al-Jauzi No 80, Sunan at-Tirmizi Bab Kitab Tafsir Surah Al-Buruj No 3340.
Menurut Imam Muslim di dalam Kitab Zuhud Bab Kisah Ashabul Ukhdud, lelaki itu beragama Nasrani (ahlul kitab) sebelum zaman Nabi Muhammad.
Berkata Ibnu Abbas kisah ini berlaku 70 tahun sebelum kelahiran Nabi. Berikut adalah terjemahan hadis di dalam Sahih Bukhari:
Wallahu a’lam
Tuesday, January 22, 2013
Pemantau FB PRU13 - Pantau Pemantau FB PRU13 - Pantau
Pemantau FB PRU13 - Pantau
Thursday, June 14, 2012
Tips Pejuang yang Berjaya di Akhirat!
1. Taqwalah kamu kepada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa
2. Beramallah dengan al-Quran (العمل بتنزيل)
3. Siap siaga selalu dengan kematian
4. Redha dengan perkara yang sedikit
Mari berlari ke Tanjung Rhu,
Sambil galas buah perpat,
Kalau diri mencari guru,
Baru jelas jalan makrifat!
زيارة العلماء : الفضيل الأستاذ يحيى عثمان رحمه الله
Nama Abuyya al-Syeikh Yahya Othman lebih mashyur di negara-negara Arab berbanding dengan tanahairnya sendiri, Malaysia.
Beliau mempunyai latarbelakang pendidikan Islam di Mekah dan juga Mesir serta begitu amat fasih berbahasa Arab. Kefasihannya sering membuatkan ramai dikalangan orang-orang Arab begitu segan terhadap beliau.
Tokoh ini pernah berjawatan pensyarah dan Timbalan Pengetua Nilam Puri Kelantan sebelum bertanding dalam pilihanraya tahun 1978.
Demi perjuangan Islam, al-Syeikh Yahya Othman sanggup meninggalkan jawatannya (sebelum sempat pencen sebagai seorang pensyarah) dan bertanding untuk kalah pada ketika itu. Setelah beberapa kali masuk bertanding dan kalah, beliau tidak pernah kenal erti perit dalam usaha menegakkan panji-panji Islam di bumi Malaysia yang tercinta ini.
Akhirnya Abuyya al-Syeikh Yahya Othman menang dalam pilihanraya pada tahun 1990 dan 1995 dan diamanahkan menjawat jawatan EXCO DUN Negeri Kelantan dalam tempoh tersebut. Dalam struktur organisasi parti, beliau pernah menjawat jawatan YDP PAS Machang selama tempoh lebih kurang 20 tahun.
Selain itu, tokoh pendidik ini juga merupakan ahli Majlis Syura Ulama’ (pernah jadi setiausahanya yang pertama), AJK Dewan Ulama’ PAS Pusat, AJK PAS Pusat, Pengasas Kolej Islam Antarabangsa Sultan Ismail Putra, pengasas Maahad Dakwah wa Imamah, pengasas dan pengarah Institut al-Nur dan lain-lain lagi. Beliau banyak menghasilkan kertas-kertas kerja dalam sektor tarbiyah Islamiyyah.
Antara karyanya yang popular dan sentiasa dijadikan rujukan oleh sekalian ahli-ahli PAS yang beristiqamah dalam aktiviti-aktiviti parti ialah; Amal Jamai (Pengertian dan Tuntutannya) dan juga Himpunan Kertas Kerja Tarbiyah dan banyak lagi.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu wa akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu waj'al al-jannata maswahu bi rahmatika ya arhamarrahimin.
Kredit :Muhammad Zaim Bin Mohammad yusof
Saturday, June 2, 2012
'Malaikat Kecil" Yang Ajaib!

Pada setiap petang Jumaat, selepas solat Jumaat, selepas melayani para jamaah di Masjid, Imam dan putera lelakinya yang berumur 11 tahun akan keluar ke bandar untuk mengedarkan risalah bertajuk “Jalan Ke Syurga” dan juga menyampaikan ceramah agama.
Pada petang Jumaat itu, seperti biasa Imam dan putera lelakinya akan keluar untuk mengedarkan risalah. Bagaimanapun pada petang tersebut keadaan di luar rumah sangat sejuk dan hujan pula turun dengan sangat lebat.
Budak itu memakai baju sejuk dan baju hujan dan berkata “OK ayah, saya sudah bersedia”. Ayahnya berkata “Bersedia untuk apa?”. Budak itu menjawab “Ayah, masa telah tiba untuk kita keluar mengedarkan buku-buku tentang Islam ini”. Ayahnya membalas “Anakku, di luar sana sangat sejuk dan hujan lebat pulak”.
Dengan muka yang kehairanan, budak itu bertanya ayahnya, “Tetapi ayah, adakah manusia tidak masuk neraka jika hari hujan?”
Ayahnya menjawab, “Anakku, Ayah tak akan keluar dengan cuaca begini..”. Dengan nada sedih, budak itu bertanya, “Ayah, boleh tak benarkan saya pergi?”. Ayahnya teragak-agak seketika, kemudian berkata, “Anakku, awak boleh pergi. Bawalah buku ini semua dan berhati-hati” .
Kemudian, budak itu telah keluar dan meredah hujan. Budak sebelas tahun ini berjalan dari pintu ke pintu dan lorong-lorong sekitar bandar. Dia memberikan risalah dan buku kepada setiap orang yang ditemuinya.
Setelah dua jam berjalan dalam hujan, akhirnya tinggal hanya satu naskhah padanya. Ketika itu dia telah basah kuyup dan berasa sejuk hingga ke tulang. Budak itu berhenti di satu penjuru jalan sambil mencari seseorang untuk diberikan buku tersebut. Namun keadaan di situ lengang.
Kemudian dia berpatah balik ke rumah pertama yang dia lalu di lorong itu. Dia berjalan di kaki lima menuju ke rumah tersebut. Bila sampai di pintu hadapan, dia menekan suis loceng namun tiada sesiapa yang membuka pintu. Dia tekan lagi dan lagi, tetapi masih tiada jawapan. Dia tunggu lagi tetapi masih tiada jawapan.
Akhirnya dia berpaling untuk meninggalkan rumah tersebut, tetapi seperti ada sesuatu yang menghalangnya. Dia kembali ke pintu itu dan menekan lagi suis loceng dan buat pertama kalinya mengetuk pintu dengan kuat. Dia tunggu, kemudian seperti sesuatu di anjung rumah itu menghalangnya supaya jangan pergi. Dia menekan suis loceng sekali lagi dan kali ini dengan perlahan pintu dibuka.
Berdiri di hadapan pintu itu seorang perempuan tua yang berwajah kesedihan. Dengan perlahan perempuan tua itu bertanya, “Apa yang boleh saya bantu awak, wahai budak?”.
Dengan senyuman serta mata yang bersinar yang boleh menyinarkan bumi, budak itu berkata, “Makcik, saya mohon maaf kalau saya telah mengganggu makcik. Saya hanya ingin memberitahu bahawa Allah sangat sayang dan sentiasa melindungi makcik. Saya datang ini hendak memberikan sebuah buku yang terakhir ada pada saya ini. Buku ini menerangkan semua tentang Tuhan, tujuan sebenar Tuhan menjadikan kita dan bagaimana untuk mencapai kebahagiaan daripada-Nya” .
Kemudian, budak itu menyerahkan buku terakhir itu dan berpaling untuk balik. Sebelum berjalan balik, perempuan itu berkata, “Terima kasih ya anak dan semoga Tuhan memberkatimu” .
Selepas solat Jumaat pada minggu berikutnya, Imam menyampaikan ceramah agama seperti biasa. Dia menamatkan ceramahnya dengan bertanya, “ Ada sesiapa yang ingin bertanya soalan atau ingin berkata sesuatu?”.
Dengan perlahan, di barisan belakang di kalangan tempat duduk muslimat, suara seorang perempuan tua kedengaran di speaker, “Tiada di kalangan jemaah yang berkumpul ini mengenali saya. Saya tidak pernah hadir sebelum ini. Sebelum hari Jumaat yang lepas, saya belum lagi memeluk agama Islam bahkan tidak terfikir langsung untuk memeluknya. Suami saya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, meninggalkan saya sebatang kara, saya benar-benar keseorangan di dunia ini.
Pada petang Jumaat yang lepas, ketika cuaca sejuk dan hujan lebat, saya telah bertekad untuk membunuh diri kerana sudah putus harapan untuk hidup. Jadi saya mengambil seutas tali dan sebuah kerusi lalu menaiki loteng di rumah saya. Saya ikat tali tersebut dengan kuat pada kayu palang di bumbung rumah kemudian berdiri di atas kerusi, hujung tali satu lagi saya ikat di sekeliling leher saya. Sambil berdiri di atas kerusi, saya berasa benar-benar keseorangan, patah hati. Saya hampir-hampir hendak melompat tiba-tiba loceng pintu berbunyi di tingkat bawah dan saya tersentak. Saya berfikir untuk menunggu sebentar, dan pasti orang itu akan pergi.
Saya tunggu dan tunggu, tetapi bunyi loceng semakin kuat dan bertubi-tubi. Kemudian orang yang menekan suis loceng itu, mengetuk pintu pula dengan kuat. Saya berfikir sendirian lagi “Siapalah di muka bumi ini yang boleh buat begini? Tiada siapa pernah tekan suis loceng itu atau nak berjumpa dengan saya”. Saya longgarkan tali ikatan di leher dan kemudian pergi ke pintu hadapan. Ketika itu bunyi loceng kuat dan semakin kuat.
Bila saya buka pintu dan lihat, sukar untuk dipercayai oleh mata saya, di anjung rumah saya itu berdiri seorang budak yang sangat comel yang bersinar wajahnya seperti malaikat, tidak pernah saya jumpa sebelum ini di dalam hidup saya. Budak itu tersenyum. Oh! Saya tidak dapat hendak gambarkan kepada anda semua. Perkataan yang keluar daripada mulutnya menyebabkan hati saya yang telah lama mati tiba-tiba hidup semula, seruan budak itu seperti suara bayi yang sangat comel. “Makcik, saya datang hendak memberitahu bahawa Allah sangat menyayangi dan sentiasa melindungi makcik”. Kemudian dia memberikan kepada saya sebuah buku bertajuk “ Jalan Ke Syurga” yang saya sedang pegang ini.
Bila “malaikat kecil” itu telah pulang meredah sejuk dan hujan, saya menutup pintu dan membaca dengan perlahan setiap perkataan yang tertulis di dalam buku tersebut. Kemudian saya naik semula ke loteng untuk mendapatkan semula tali dan kerusi. Saya tak perlukannya lagi.
Oleh sebab di belakang buku ini ada tertera alamat tempat ini, saya sendiri datang ke masjid ini ingin mengucapkan syukur kepada Tuhan. Tuhan kepada budak kecil yang telah datang tepat pada waktunya, yang dengan demikian telah terhindar jiwa saya daripada keabadian di dalam neraka.
Ramai yang berada di dalam masjid ketika itu menitiskan air mata. Mereka melaungkan TAKBIR…ALLAH HU AKBAR…gemaan takbir bergema di udara. Imam iaitu ayah kepada budak itu turun dari mimbar pergi ke barisan hadapan di mana “malaikat kecil” itu sedang duduk.
Dia mendakap puteranya dengan air mata keluar tanpa disedarinya. Mungkin tidak ada jemaah yang memiliki saat yang lebih mulia ini dan mungkin di alam semesta ini belum pernah melihat seorang ayah yang penuh kasih sayang dan penghormatan terhadap anaknya. Inilah satu peristiwa..
Berbahagialah anda kerana membaca kisah ini. Jangan biarkan kisah ini di sini sahaja. Bacalah lagi dan sampaikan kepada yang lain. Syurga adalah untuk umat-Nya. Ingatlah, dengan menyebarkan firman Allah boleh mengubah hidup seseorang yang hampir dengan anda. Sila kongsi kisah menarik ini.
Sebarkanlah kalimah Allah, kalau kita bantu Allah, Allah akan membantu kita dalam semua perkara yang kita buat.
Maksud firman Allah dalam Surah al-Maidah ayat 3;
“… …pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari agama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya), sebab itu janganlah kamu takut dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu. Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu, maka sesiapa yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), kerana Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasih
Thursday, April 26, 2012
Bersama Ustaz Azhar Idrus & YB Dr Ahmad Yunus
Route : Tempat RV -Kesas -Exit Kinrara - PJS 3 - PJS 2 Masjid Nurul Ehsan Tmn Medan PJ
Hubungi : 0133504781/0122376436/0133442190












